Welcome Ramadhan, Welcome Pesrom!


Marhaban ya ramadhaaan, selamat datang bulan ramadhan yang penuh berkah. Jika sudah berbicara tentang ramadhan, tak ada lagi hal yang menjadi pusat perhatian para sahabat-sahabati remaja masjid agung at-ataqwa selain Pesantren Ramadhan. Ya, kemarin, tepatnya pada tanggal 20 juli 2012, pesantren ramadhan angkatan XXXI telah resmi dibuka.
Hadrah Al-banjari remas attaqwa :)

Kyai H. S. H. Hodari H.S

Acara Pesantren Ramadhan kali ini dibuka oleh ketua takmir, Kyai H.S.H Hodari H.S. Dalam sambutannya, beliau berkata bahwa remaja saat ini membutuhkan perbaikan akhlaq dan perbaikan-perbaikan ini ada pada acara pesantren ramadhan yang setiap tahun rutin dijalankan oleh remaja masjid agung attaqwa. Pembentukan akhlaqul karimah pada diri seorang remaja dapat dilakukan memalui pemberian tausiah, berteman dengan orang sholih, dan mempelajari biografi orang-orang hebat. Itu semua ada dalam kegiatan pesrom. Alhamdulillah, Pesrom dari tahun ke tahun direspon dengan cukup antusias dengan masyarakat sekitar, terbukti dengan adanya 70 peserta yang mengikuti pesrom tahun ini.
Diharapkan, kegiatan pesantren ramadhan kali ini dapat terus menghasilkan remaja-remaja yang cinta masjid dan berakhlaqul karimah

Akhlaq dalam Mencari Ilmu


Ust. Shoddiq
oleh: Ust. Shoddiq
Penting bagi kita untuk mengerti bagaimana sebenarnya akhlaq dalam mencari ilmu. Apalagi, bagi kita yang masih duduk dalam bangku pendidikan. Di mata semua orang, menuntut ilmu pasti memiliki arti yang baik. Tapi, siapa yang tau, bahwa ternyata menuntut ilmu tidak hanya dapat membawa kebaikan, tapi juga dapat berpeluang membawa kita masuk ke dalam api neraka. Apa yang menyebabkannya menjadi seperti itu?
Menurut imam Ghazali, ada dua macam orang yang mencari ilmu. Pertama adalah orang mencari ilmu untuk kebanggaan dan kekayaan, dan yang kedua adalah orang yang mencari ilmu untuk keridhoan Allah.
“Jabir ra. mengutarakan, Rasulullah saw. Bersabda: janganlah kamu belajar (dengan tujuan) untuk membanggakan diri pada para ulama, untuk mengibuli orang bodoh, dan untuk mencari kedudukan. Siapa yang melakukan (salah satu dari ketiga) hal itu, maka neraka tempatnya yang utama.” (H.R. Ibnu majah dan Ibnu Hibban)
Begitulah, apabila seseorang mencari ilmu semata-mata hanya untuk sebuah kebanggan, agar ia terlihat pandai, dipuji orang banyak, atau untuk mendapatkan harta kekayaan, maka sebenarnya, apa yang ia lakukan itu sama saja sedang merusak agamanya dan dirinya sendiri, serta menjual akhirat dengan dunianya. Ibarat seseorang yang berdagang, ketika ia menjual barang dagangannya, bukan untung yang didapat melainkan hanya kerugian yang menumpuk.
Begitu pula dengan orang yang mengajar hanya untuk sesuatu yang bersifat duniawi, atau mengajari orang lain untuk juga turut menuntut ilmu hanya untuk sebuah kepongahan diri, sebuah gelar, kekayaan, atau segala sesuatu yang bersifat duniawi, itu berarti ia sama saja menolong sesamanya untuk berbuat maksiat. Walau hanya satu kali niat, tapi kerugian yang dialami oleh orang yang mengajarkan kemaksiatan itu sama besar dengan orang yang mengamalkannya. Imam Ghazali mengumpamakan orang yang demikian seperti orang yang menjualkan pedang kepada orang lain yang kemudian pedang itu akan digunakan untuk membunuh.
Berkebalikan dengan orang yang mencari ilmu semata-mata karena Allah. Mereka yang mencari ilmu hanya untuk mencari ridho Allah, walau hanya sedikit saja ilmu yang mereka dapatkan, akan ada kenikmatan-kenikmatan, keuntungan-keuntungan yang sangat besar didepan mereka. Kenikmatan-kenikamatan itu sebagaimana yang tercantum dalam hadist,
“Abu Darda ra. mengatakan, Rasulullah saw. Bersabda: “Barang siapa yang menempuh jalan mencari ilmu, maka Allah mempermudah baginya suatu jalan menuju surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayapnya bagi orang yang menuntut ilmu karena ridloNya dengan apa yang mereka perbuat.
Sesungguhnya, orang yang berilmu itu akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada dilangit dan yang ada dibumi termasuk ikan dalam air. Dan kelebihan orang yang berilmu dari orang yang beribadah (tanpa ilmu) itu adalah kelebihan bulan dari seluruh bintang yang lain.” (H.R. Abu Daud dan Tirmidzi)
Tapi sebelum semua itu, kita harus mengetahui bahwa dalam mencari ilmu, kita harus memulainya dengan baik dan mengakhirinya dengan yang baik pula. Maksudnya? Permulaan awal yang baik adalah dengan sebuah niat yang baik (yak! Akhirnya, balik lagi ke niat). Contoh bentuk niatan yang paling kecil adalah dengan mengucapkan basmalah. Terlihat sepele memang, tapi sebenarnya hal sepele itu tentu sangat mengena. Karena harus kita sadari, ketika kita mengucapkan basmalah, sebetulnya kita sedang ‘pamit’ kepada Yang Maha Memiliki Ilmu. Dengan mengawali proses belajar dengan niatan yang baik, insyaAllah, Allah juga akan menjaga kita dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Bagaimana jika kita tidak mengawalinya dengan niatan yang baik? Seperti yang disabdakan Rasulullah, jangan-jangan, niatan kita mencari ilmu itu malah karena hawa nafsu! Dan kalau kita sampai dipimpin oleh hawa nafsu dalam mencari ilmu, takutnya kita akan ‘terpeleset’ dan malah dipandu oleh setan yang dilaknat Allah. Terpeleset bagaimana? Setan itu suka menghembuskan bisikan-bisikan sombong kepada manusia, nah, kalau sudah terhasut, ilmu manusia bisa habis karena kesombongannya yang diakibatkan karena ia sudah merasa ilmunya banyak dan berlimpah. Dan akhirnya, ia akan tunduk pada kejelekan dan akan melawan semua kebaikan sampai ia tiba pada amal yang merugikan.
Orang yang ilmunya banyak tapi niatannya tidak baik, tidak akan bertambah kepadanya kecuali kejauhannya terhadap Allah. Bukan berarti melarang kita untuk mencari ilmu sebanyak-banyaknya, hanya saja kita harus benar-benar memperhatikan niatan kita dalam mencari ilmu. karena yang terpenting itu niatnya, dan niat itu berasal dari iman. Jangan sampai, bertahun-tahun waktu yang kita habiskan untuk mencari ilmu jadi sia-sia karena satu niat kecil tidak baik yang tidak sengaja terselip di hati kita. Karena siksa yang paling berat di hari kiamat adalah siksa untuk pada para pencari ilmu yang pandai, tapi ilmunya tidak bermanfaat karena tidak diamalkan.
Jadi, bagaimana? Mau jadi si pencari ilmu yang mendapat nikmat Allah? Yuk, mari luruskan niat terlebih dahulu sebelum mengejar ilmu sebanyak-banyaknya!

Interospeksi Diri dengan Kisah Para Nabi

 Oleh: Ust. Ruslani

Bismillahirrahmanirrahim…
Ust. Ruslani saat menyampaikan kajian
Sahabat-sahabat Remas yang dicintai Allah Swt, dunia ini tidak hanya kita yang menempati. Ada berbagai macam watak, sifat, tipe manusia yang terlahir di dunia kita dan berkumpul bersama kita. Ada yang pemaaf, tegas, penggerutu, penyayang, ada juga yang sukanya menyalahkan orang lain atas kesalahan-kesalahan.
Nah, sifat manusia yang suka menyalahkan orang lain atas suatu kesalahan inilah yang patut kita perhatikan baik-baik. Jangan-jangan, malah sikap itu sebenarnya ada pada diri kita. Miris sekali ketika melihat seseorang hidup dengan sikap seperti itu, apalagi kalau ternyata, kita sendiri juga mengidap penyakit tersebut! Karena sebenarnya, adalah suatu kesalahpahaman ketika seseorang punya ’hobi’ menghakimi seseorang yang lain atas suatu kesalahan.
Setiap dari kita semua di dunia ini tidak ada yang suci dari kesalahan, entah itu kecil ataupun besar. Kita pernah mendengar kata-kata ‘Manusia adalah biangnya kesalahan’. Apa alasannya? Alasannya adalah karena memang kesalahan dan manusia itu sangat dekat. Bahkan tidak dapat dipisahkan. Rasa lapar dan haus, itu manusiawi. Artinya, sangat wajar bila dirasakan oleh manusia. Begitupun melakukan kesalahan. Hal tersebut juga sangat manusiawi. Ingat tentang kisah Nabi Adam dan Siti Hawa? Nabi Adam a.s., manusia pertama yang diciptakan Allah, juga pernah tergelincir oleh siasat setan. Nabi Adam a.s. dan Siti Hawa diturunkan ke bumi karena dibujuk setan untuk memakan buah Khuldi. Lihat? Nabi Adam a.s. saja pernah melakukan kesalahan, apalagi kita?
 Tetapi walaupun begitu, kita bisa selamanya membiarkan kesalahan-kesalahan yang telah kita perbuat tanpa ada perbaikan. Karena tidak semua yang manusiawi itu baik. Rasa lapar merupakan rasa manusiawi yang baik, karena rasa lapar dapat membuat kita semakin bersyukur atas karunia Allah Swt. “Alhamdulillah… sudah nggak lapar lagi.” Bukankah itu bentuk dari rasa syukur kita? Sedangkan jika kita melakukan kesalahan, sangat mungkin akibat dari kesalahan itu malah merugikan orang-orang yang ada disekitar kita. Jika tidak segera diperbaiki, akan ada banyak lagi kerugian yang timbul.
Kita perlu mengadakan perbaikan-perbaikan agar tidak banyak kerugian yang timbul dari sifat kemanusiawian kita. Orang yang baik, bukanlah orang yang suci sempurna dari kesalahan. Tapi adalah orang yang pernah melakukan kesalahan dan kemudian mempunyai kemauan untuk beri’tikad baik. Bukankan Allah SWT. Berfirman, “Sebaik-baiknya manusia adalah ia yang bertaubat setelah melakukan kesalahan”? Setelah Nabi Adam diturunkan ke bumi, ia menangis dan bertaubat kepada Allah, sehingga Allah mengembalikannya kembali ke Surga. Begitupun kita, kita ini nanti juga akan dikembalikan ke Surga, tapi dengan satu syarat, yaitu bertaubat, memperbaiki kesalahan-kesalahan yang telah kita lakukan.
Lalu, bagaimana cara memperbaikinya? Yaitu dengan Ilmu. Teladanilah kehidupan mereka yang mempunayi kemauan untuk beri’tikad baik setelah melakukan kesalahan. Bukankah Allah sudah mengutus para nabi dan rasul-Nya untuk membimbing kita? Ketahuilah kisah-kisah perjalanan hidup mereka, ambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut, lalu amalkan dalam kehidupan kita disini. Sesungguhnya itulah gunanya para nabi dan rasul diutus ke bumi. Agar kita menjadi manusia yang tidak rugi.
Jadi, jangan  terburu-buru memvonis orang karena kesalahannya. Mari kita interospeksi diri! Karena sebenarnya, kita juga manusia yang tidak pernah luput dari kesalahan. Gunakan waktu yang ada saat ini untuk memperbaiki kesalahan-kesalahan kita sendiri. Daripada menghabiskan waktu untuk menghakimi orang lain habis-habisan, bukankah lebih bermanfaat bila kita memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menjadi pribadi yang lebih baik di setiap langkah hidup kita?
Semoga bermanfaat, semoga kita menjadi musli-muslimah yang berakhlaqul karimah. Amin. (sedikit dikembangkan oleh tim jurnalistik tanpa mengubah isi)